Menggali Kekayaan Makna Melalui Ilmu Qira’at di STIQ ASH
Banyak umat Islam familiar dengan satu gaya bacaan Al-Qur’an (riwayat Hafs dari Ashim). Namun, Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh hingga sepuluh variasi bacaan yang autentik (Qira’at Sab’ah atau Asy’ar). Ilmu Qira’at adalah disiplin ilmu yang mempelajari variasi-variasi ini. Bagi seorang penafsir (Mufassir), menguasai ilmu ini adalah kunci untuk membuka lapisan makna yang lebih dalam dan kaya.
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) ASH secara serius mengintegrasikan studi Qira’at ke dalam kurikulum Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), memastikan lulusannya tidak hanya hafal, tetapi juga memahami kedalaman bahasa Al-Qur’an.
1. Qira’at sebagai Sumber Kekayaan Tafsir
Variasi bacaan seringkali menghasilkan variasi makna, yang semuanya sahih dan datang dari Rasulullah SAW. Memahami Qira’at memungkinkan Mufassir untuk:
- Memperjelas Maksud Ayat: Terkadang, satu Qira’at dapat memperjelas maksud hukum atau etika yang terkandung dalam ayat. Misalnya, variasi bacaan pada kata kerja dapat mengubah apakah perintah tersebut bersifat aktif atau pasif.
- Menghindari Konflik Makna: Dalam kasus yang tampak bertentangan, Qira’at dapat menyediakan konteks yang berbeda, yang jika disatukan (jam’u), menghasilkan pemahaman menyeluruh terhadap kehendak Allah SWT.
- Memperkuat I’jaz (Kemukjizatan): Adanya berbagai bacaan autentik yang tetap selaras dengan kaidah bahasa Arab menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an dalam linguistik dan kesempurnaan penyampaian wahyu.
2. Model Pembelajaran Talaqqi Bersanad
Di STIQ ASH, studi Qira’at dilakukan dengan metode tradisional yang terjamin keotentikannya:
- Talaqqi (Face-to-Face Learning): Mahasiswa wajib membaca langsung di hadapan dosen pengampu yang memiliki Sanad (rantai keilmuan) Qira’at yang tersambung. Ini menjamin ketepatan makhraj, tajwid, dan adab dalam membaca.
- Hafalan Matan Qira’at: Selain praktik lisan, mahasiswa juga mempelajari matan (naskah rujukan) utama dalam Qira’at, seperti asy-Syathibiyyah (untuk Sab’ah) atau ad-Durrah (untuk Asy’ar), untuk menguasai kaidah teoritisnya.
3. Lulusan yang Inklusif dan Mendalam
Lulusan IAT dari STIQ ASH yang menguasai Qira’at memiliki keunggulan kompetitif sebagai:
- Imam dan Qari Internasional: Mampu memimpin salat atau berpartisipasi dalam MTQ dengan berbagai riwayat bacaan.
- Pendidik Al-Qur’an: Guru yang mampu mengajarkan Al-Qur’an secara mendalam, tidak hanya satu riwayat, dan membuka wawasan siswa terhadap kekayaan tradisi bacaan Al-Qur’an.
- Penafsir yang Bijak: Mampu berijtihad dalam Tafsir dengan mempertimbangkan semua aspek kebahasaan dan bacaan yang sah, menghasilkan pemahaman Islam yang luas dan toleran terhadap perbedaan.
STIQ ASH mencetak generasi cendekiawan yang berwawasan luas, menghormati keragaman Qira’at, dan mampu menyelami samudra makna Al-Qur’an.
