Mencetak Penulis dan Peneliti Al-Qur’an di Era Disrupsi

Mencetak Penulis dan Peneliti Al-Qur’an di Era Disrupsi

Dalam sejarah Islam, para penghafal Al-Qur’an yang agung—seperti Imam As-Suyuthi atau Ibnu Katsir—bukan hanya hafal, tetapi juga merupakan ulama produktif dan penulis (Mushannif) yang menghasilkan karya-karya monumental di bidang Tafsir, Hadis, dan Fikih.

Di era digital dan disrupsi ini, kebutuhan terhadap Hafizh yang memiliki kemampuan riset, analisis, dan kepakaran menulis ilmiah semakin mendesak. Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah hadir untuk mengisi kekosongan ini, berkomitmen mentransformasi setiap mahasiswa menjadi “Hafizh Cendekia” yang mampu berkontribusi pada khazanah keilmuan Islam modern.


Tiga Langkah STIQ Ash-Shiddiqiyah Melahirkan Mushannif Qur’ani

Filosofi pendidikan di STIQ Ash-Shiddiqiyah dirancang untuk mengintegrasikan kekuatan hafalan (hifzh) dengan kedalaman pemikiran (fahm) dan keterampilan menulis (kitabah):

1. Fondasi Hifzh Mutqin (Hafalan Kokoh) sebagai Dasar Riset

Hafalan yang kuat adalah prasyarat, bukan tujuan akhir. Di STIQ Ash-Shiddiqiyah, hafalan yang kokoh digunakan sebagai modal utama untuk:

  • Akurasi Referensi: Seorang peneliti Al-Qur’an harus mampu mengingat dan merujuk ayat dengan akurat, tanpa harus selalu bergantung pada perangkat digital.
  • Analisis Tematik: Hafalan yang kuat memungkinkan mahasiswa melihat pola tematik dalam Al-Qur’an, menjadi dasar yang kuat untuk melakukan penelitian tafsir tematik (maudhu’i) yang relevan dengan isu kontemporer.

2. Menguasai Metodologi Tafsir dan Riset Modern

STIQ Ash-Shiddiqiyah menjembatani ilmu Ushul al-Tafsir klasik dengan metodologi ilmiah modern.

  • Riset Tafsir Terapan: Mahasiswa didorong melakukan penelitian yang bersifat terapan (applied research), misalnya mengkaji implikasi ayat-ayat Al-Qur’an terhadap etika kecerdasan buatan (AI), ekonomi berkelanjutan, atau leadership politik Islam.
  • Keterampilan Menulis Ilmiah: Selain menulis skripsi, mahasiswa dilatih menulis artikel ilmiah untuk publikasi di jurnal nasional dan internasional. Hal ini mempersiapkan mereka untuk berkarir sebagai penulis buku, dosen, atau peneliti di lembaga kajian Islam.
  • Literasi Digital: Mahasiswa dibekali kemampuan memanfaatkan software dan database keilmuan Islam (seperti Maktabah Syamilah dan Google Scholar) secara efektif untuk mendukung riset.

3. Jaringan Akademik dan Kolaborasi Keilmuan

Menjadi Mushannif (penulis) berarti berkontribusi pada dialog keilmuan. STIQ Ash-Shiddiqiyah aktif menjalin kolaborasi:

  • Seminar dan Konferensi: Kampus rutin mengadakan atau mengirim mahasiswa untuk berpartisipasi dalam seminar dan konferensi ilmiah, melatih mereka mempresentasikan hasil riset dan berargumen secara akademik.
  • Bimbingan Publikasi: Dosen-dosen yang aktif meneliti memberikan bimbingan intensif agar karya ilmiah mahasiswa memiliki kualitas yang layak dipublikasikan dan memberi dampak nyata.

Memilih STIQ Ash-Shiddiqiyah adalah memilih jalan untuk menjadi Hafizh yang produktif. Lulusan kami tidak hanya menjaga Mushaf di dada, tetapi juga menghasilkan Mushannaf (karya tulis) di meja.

Leave a Reply