Mengapa Ilmu Tafsir Klasik Lulusan STIQ Ash-Shiddiqiyah Tak Tergantikan oleh AI
Kecerdasan Buatan (AI), khususnya model bahasa generatif seperti ChatGPT, kini mampu menerjemahkan, menganalisis teks, bahkan menyusun ringkasan tafsir. Pertanyaan pun muncul: Apakah peran mufassir (ahli tafsir) dan hafizh (penghafal Al-Qur’an) akan tergantikan oleh AI?
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah memberikan jawaban tegas: AI adalah alat, bukan guru. Justru di era algoritma inilah, kedalaman ilmu tafsir klasik dan kekuatan hifzh (hafalan) yang dimiliki lulusan STIQ menjadi tak tergantikan. Kampus ini melatih mahasiswanya untuk menguasai teknologi sambil mempertahankan inti keilmuan Qur’ani.
Tiga Kompetensi Inti Lulusan STIQ yang Tidak Dimiliki AI
AI dapat memproses data, tetapi ia tidak memiliki hakikat pemahaman, konteks sejarah, dan tanggung jawab spiritual. Tiga kompetensi berikut adalah keunggulan utama lulusan STIQ Ash-Shiddiqiyah:
1. Membedah Asbabul Nuzul dan Maqashid Syariah (Konteks dan Tujuan)
AI hanya dapat menghubungkan data (terjemahan, kamus, dan teks tafsir) tetapi tidak mampu memahami konteks historis dan tujuan luhur di balik suatu ayat.
- Ilmu Asbabul Nuzul: Mahasiswa STIQ mempelajari alasan historis diturunkannya ayat, yang sangat krusial untuk mencegah penafsiran yang dangkal atau bias.
- Maqashid Syariah: Lulusan mampu menafsirkan ayat dengan mengacu pada tujuan utama syariah (seperti perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta), memastikan tafsir tersebut membawa kemaslahatan bagi umat. AI tidak memiliki kompas moral ini.
2. Membangun Sanad Keilmuan dan Integritas Spiritual
Ilmu-ilmu Al-Qur’an memiliki rantai transmisi (Sanad) yang dipertanggungjawabkan dari generasi ke generasi. Ini adalah aspek spiritual dan metodologis yang mutlak.
- Talaqqi dan Mutqin: Di STIQ Ash-Shiddiqiyah, hafalan dan bacaan Al-Qur’an diajarkan dengan sistem talaqqi (langsung dari guru), memastikan kualitas tajwid dan makharijul huruf yang autentik—sesuatu yang tidak bisa diverifikasi oleh chatbot.
- Integritas Penafsir: Lulusan dibentuk sebagai penafsir yang memiliki taqwa dan amanah keilmuan, memastikan tafsir yang mereka sampaikan bebas dari kepentingan politik atau hawa nafsu.
3. Merumuskan Tafsir ‘Amali (Implementatif) untuk Komunitas
Tafsir yang baik adalah tafsir yang dapat diaplikasikan dan diinternalisasikan oleh umat.
- Konselor Qur’ani: Lulusan STIQ tidak hanya menulis, tetapi juga berdakwah dan menjadi konselor. Mereka mampu merumuskan nasihat, ceramah, dan solusi masalah kontemporer (seperti mental health atau etika digital) berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an, sebuah fungsi kemanusiaan yang membutuhkan empati dan kearifan lokal.
