Saat Followers Lebih Berharga dari Sanad
Di tengah hiruk pikuk media sosial, otoritas keilmuan agama seringkali berpindah dari majelis taklim ke timeline digital. Muncul fenomena “Ulama Instan” atau influencer agama, di mana popularitas, jumlah followers, dan kemampuan berbicara yang karismatik dianggap lebih penting daripada kedalaman ilmu, metodologi, atau Sanad (rantai transmisi keilmuan) yang sahih. Akibatnya, penafsiran Al-Qur’an dan Hadis yang dangkal, out-of-context, dan bahkan menyesatkan, mudah menyebar luas.
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah berdiri sebagai benteng akademik melawan arus ini. Kami berkomitmen menghasilkan Sarjana Qur’ani yang mampu menguji, mengoreksi, dan mengembalikan otoritas Tafsir ke tempat semestinya: ranah metodologi ilmiah, kearifan, dan sanad yang jelas.
Tiga Aksi Nyata STIQ Melawan Kebisingan Tafsir Digital
STIT Ash-Shiddiqiyah mempersiapkan lulusannya untuk menjadi otoritas keilmuan yang kredibel dan bertanggung jawab:
1. Membangun Kompetensi Ulumul Qur’an Komprehensif
Kelemahan terbesar ulama instan adalah minimnya penguasaan terhadap Ilmu Pendukung Al-Qur’an (Ulumul Qur’an).
- Pengetahuan Kontekstual: Mahasiswa dilatih menguasai lima belas cabang Ulumul Qur’an, termasuk Asbabul Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat), Nasikh wal Mansukh (ayat yang menghapus dan yang dihapus), dan Qiraat (variasi bacaan). Penguasaan ini memungkinkan lulusan menilai apakah suatu penafsiran sudah sesuai dengan konteks dan kaidah yang benar.
- Filter Logika: Lulusan mampu mengidentifikasi dan membantah penafsiran yang hanya didasarkan pada perasaan (ra’yu), terjemahan literal, atau bahkan kepentingan pribadi/politik, dengan berlandaskan pada metodologi tafsir yang sahih (Manhaj Mufassirin).
2. Mempraktikkan Prinsip Sanad dalam Setiap Keilmuan
STIQ memastikan ilmu yang diperoleh mahasiswa memiliki pertanggungjawaban dari guru ke guru.
- Sistem Talaqqi dan Ijazah: Dalam tahfizh Al-Qur’an, STIQ menerapkan sistem talaqqi (belajar langsung) yang menjaga kesahihan bacaan. Demikian pula dalam Tafsir, mahasiswa diajarkan untuk merujuk pada Tafsir Mu’tabar (Tafsir yang diakui otoritasnya), memastikan ilmu mereka terhubung dengan rantai keilmuan ulama salaf.
- Integritas Sumber: Mahasiswa dibimbing untuk memverifikasi sumber (referensi) ilmu agama di internet. Mereka tahu mana situs, channel, atau akun yang dikelola oleh ahli yang memiliki sanad keilmuan, dan mana yang sekadar opini tanpa dasar.
3. Mengambil Alih Ruang Digital dengan Konten Positif
STIT Ash-Shiddiqiyah mendorong lulusannya untuk menggunakan media sosial sebagai alat dakwah yang mencerahkan, bukan pemecah belah.
- Produksi Konten Berbasis Riset: Lulusan didorong menjadi kreator konten yang cerdas, mampu menyajikan kajian tafsir tematik yang rumit menjadi sajian visual dan audio yang mudah dipahami, tetapi tetap akurat dan berbasis riset ilmiah.
- Dakwah yang Solutif: Lulusan menggunakan otoritas keilmuannya untuk memberikan jawaban yang solutif dan moderat terhadap isu-isu kontemporer (seperti mental health, utang online, atau etika digital) dari perspektif Al-Qur’an dan Sunnah.
Memilih STIQ Ash-Shiddiqiyah adalah memilih jalur untuk menjadi Sarjana Qur’ani yang Berwibawa—seorang ahli yang tidak takut pada kepungan informasi, karena mereka memiliki fondasi ilmu yang kokoh, metodologi yang teruji, dan sanad yang jelas.
