Meneguhkan Kebenaran Absolut (Haqq) di Era Relativisme

Meneguhkan Kebenaran Absolut (Haqq) di Era Relativisme

Generasi muda Muslim hari ini hidup di tengah arus deras ideologi yang mempertanyakan segala sesuatu, terutama Skeptisisme (keraguan) dan Relativisme (anggapan bahwa semua kebenaran bersifat subjektif dan relatif, tidak ada yang absolut). Di ruang digital, mereka terpapar narasi yang mengatakan, “Semua agama sama benarnya,” atau “Kebenaran itu tergantung sudut pandang masing-masing.” Permasalahan hari ini adalah: Relativisme ini mengikis fondasi keimanan (Aqidah) dan menghilangkan pegangan moral yang kokoh, karena jika semua kebenaran sama, maka tidak ada yang penting untuk diperjuangkan.

Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah menyadari bahwa Al-Qur’an adalah Al-Haqq (Kebenaran Absolut) yang harus menjadi jangkar. Kami berkomitmen menghasilkan Sarjana Tafsir yang bukan hanya hafal ayat, tetapi juga mampu menjadi Murshid (Pembimbing) yang menguasai metodologi Qur’ani untuk membongkar argumen relativisme, menegakkan kembali Kebenaran Tauhid, dan memberikan jawaban yang logis dan spiritual bagi keraguan generasi muda.


Tiga Kompetensi Utama STIQ dalam Meneguhkan Haqq

STIQ Ash-Shiddiqiyah melatih mahasiswanya untuk menggunakan Tafsir sebagai alat intelektual dan spiritual:

1. Membedah Konsep Al-Haqq dan Al-Batil Melalui Tafsir Tematik

Sarjana Tafsir harus mampu menunjukkan secara sistematis bagaimana Al-Qur’an mendefinisikan Kebenaran.

  • Kajian Terminologi Kunci: Mahasiswa dilatih melakukan kajian mendalam terhadap terminologi Qur’ani seperti Al-Haqq, Al-Batil, Al-Yaqin, dan Al-Huda, memahami konteks setiap penggunaan kata tersebut untuk menegaskan bahwa Kebenaran berasal dari sumber tunggal (Allah SWT).
  • Integrasi Logika dan Wahyu: Mampu menggunakan Argumentasi Burhan (bukti rasional) yang sering digunakan Al-Qur’an (misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 258 tentang perdebatan Ibrahim dengan Raja Namrudz) untuk menunjukkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal, melainkan melengkapinya.

2. Menguasai Ilmu Jadal (Debat/Dialektika) Islami

Untuk melawan Skeptisisme, dibutuhkan kemampuan berdialog yang cerdas dan etis.

  • Etika Munazharah (Diskusi Intelektual): Lulusan dibekali skill berdialog dan berdebat secara konstruktif dan Islami (Jadal bil Lati Hiya Ahsan), mencontoh metode Nabi dalam menjawab keraguan kaum kafir. Tujuannya adalah mencari kebenaran, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
  • Analisis Ideologi Kontemporer: Mampu menganalisis akar filosofis Relativisme, Posmodernisme, dan Liberalisme yang menjadi sumber keraguan, dan memberikan kritik yang tajam namun berbasis ilmu Tafsir.

3. Mentransformasikan Haqq menjadi Action (Amalan)

Kebenaran tidak hanya untuk diyakini, tetapi untuk dihidupkan.

  • Tafsir Aplikatif untuk Moral: Sarjana Tafsir didorong untuk menghubungkan kebenaran Aqidah dengan aplikasi moral dan sosial (Akhlak). Jika Kebenaran itu absolut, maka standar keadilan, kejujuran, dan kebaikan juga absolut, melawan etika “semua boleh” yang dianut relativisme.
  • Dakwah Ihsan: Mengajarkan konsep Ihsan (berbuat kebaikan seolah-olah melihat Allah) sebagai puncak realisasi Haqq, memberikan landasan spiritual yang kokoh kepada pemuda agar keimanan mereka tidak mudah goyah oleh keraguan digital.

Memilih STIQ Ash-Shiddiqiyah berarti memilih peran sebagai Pakar Epistemologi Islami dan pembela kebenaran. Lulusan kami siap menjadi Murshid yang membimbing generasi muda melewati badai keraguan modern, memastikan mereka berpegang teguh pada Al-Qur’an—Kebenaran Absolut—sebagai sumber ilmu, moral, dan pegangan hidup yang tak tergoyahkan.

Leave a Reply