STIQ Ash-Shiddiqiyah dalam Mengintegrasikan Sains dan Al-Qur’an dengan Metodologi yang Benar
Al-Qur’an mengandung ayat-ayat yang menyinggung fenomena alam semesta (Ayat al-Kawniyyah). Di era digital, ayat-ayat ini sering disalahgunakan atau disalahpahami: Ayat sains dipaksakan untuk mencocokkan setiap penemuan ilmiah terbaru (concordism yang berlebihan), atau sebaliknya, diinterpretasikan secara dangkal tanpa dukungan metodologi tafsir yang mapan. Permasalahan hari ini adalah: Banyak influencer non-ahli tafsir menyebarkan misinterpretasi ayat sains di media sosial, yang tidak hanya merusak citra Islam di kalangan intelektual, tetapi juga menimbulkan keraguan ketika teori ilmiah yang dicocokkan tersebut terbukti berubah.
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah menyadari bahwa interaksi antara sains dan tafsir harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan metodologis. Kami berkomitmen menghasilkan Sarjana Tafsir yang Interdisipliner, yang menguasai metode Tafsir Ilmi yang benar, mampu membedakan antara penafsiran (pemaknaan) dan i’jāz (kemukjizatan), serta menegaskan bahwa tujuan utama ayat kawniyyah adalah untuk menuntun pada Tauhid dan Tadabbur (perenungan), bukan sekadar buku teks sains.
Tiga Kompetensi Utama STIQ dalam Metodologi Integrasi Sains-Tafsir
STIQ Ash-Shiddiqiyah melatih mahasiswanya untuk menjadi ahli tafsir yang kritis dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan:
1. Penguasaan Prinsip Dasar Tafsir Ilmi yang Benar
Tafsir ayat sains harus tunduk pada kaidah bahasa dan tujuan syariah.
- Batasan I’jāz dan Tafsir: Mahasiswa dilatih membedakan antara I’jāz Ilmi (kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an—yaitu isyarat yang baru ditemukan sains modern) dan Tafsir Ilmi (penjelasan ayat dengan bantuan ilmu pengetahuan). Menekankan bahwa I’jāz harus bersifat qath’iy (pasti) dan tidak boleh mengabaikan makna syar’i dan bahasa Arab yang jelas.
- Prioritas Dalālah (Petunjuk): Lulusan memahami bahwa tujuan utama ayat kawniyyah adalah untuk menunjukkan kebesaran Allah (Tauhid) dan mendorong manusia untuk merenungkan alam, bukan untuk mengajarkan detail mekanis sains modern.
2. Keterampilan Analisis Kritis terhadap Teori Sains
Sarjana Tafsir harus memiliki dasar pemahaman ilmiah yang kuat dan kritis.
- Membedakan Fakta dan Teori: Mahasiswa dibekali kemampuan untuk membedakan antara Fakta Ilmiah yang terbukti (established facts) dan Teori Ilmiah yang masih bisa berubah (hypotheses). Penafsiran Al-Qur’an yang benar hanya boleh menggunakan fakta yang kokoh.
- Studi Kasus Misinterpretasi: Menganalisis contoh-contoh kesalahpahaman populer di media sosial (misalnya, flat earth atau teori evolusi yang dipaksakan) dan menunjukkan bagaimana misinterpretasi tersebut melanggar kaidah Bahasa Arab atau prinsip Syariah.
3. Edukasi Umat dan Dialog Interdisipliner
Sarjana Tafsir harus mampu menjembatani ilmuwan dan umat.
- Dakwah yang Intelektual: Lulusan dibekali skill komunikasi untuk menyampaikan hasil tafsir yang terintegrasi secara ilmiah di forum publik dan media digital, menjawab keraguan intelektual pemuda dengan argumen yang kokoh dan beradab.
- Kolaborasi dengan Ilmuwan: Mampu berdialog dan berkolaborasi dengan ilmuwan (fisikawan, biologi, astronom) untuk mendapatkan pemahaman yang tepat tentang temuan ilmiah, sebelum mencoba menghubungkannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
