Menjaga Generasi Qur’ani di Tengah Badai Digital Indonesia

Menjaga Generasi Qur’ani di Tengah Badai Digital Indonesia

Di era digital, pemuda Indonesia hidup di dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia maya. Di satu sisi, teknologi membuka peluang belajar tanpa batas; di sisi lain, generasi muda terpapar kecanduan gawai, informasi negatif, dan gempuran konten yang menjauhkan mereka dari Al-Qur’an. Fenomena ini menjadikan misi melahirkan generasi Qur’ani bukan sekadar slogan, tetapi kebutuhan mendesak bagi masa depan bangsa.

Krisis Literasi Al-Qur’an di Negeri Muslim Terbesar

Berbagai riset menunjukkan bahwa masih lebih dari separuh Muslim Indonesia belum lancar membaca Al-Qur’an secara benar. Angka ini sangat kontras dengan status Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan maraknya lembaga pendidikan Islam. Kondisi ini bukan hanya masalah kemampuan baca, tetapi juga lemahnya keterikatan hati dan akal dengan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Tantangan Generasi Muda di Era Digital

Generasi muda Indonesia berhadapan dengan beberapa tantangan utama: kecanduan media sosial, derasnya konten negatif, serta kurangnya kemampuan memilah informasi. Kesenjangan literasi digital membuat banyak anak muda mudah terjebak penipuan online, cyberbullying, dan pola hidup konsumtif yang menguras waktu dan fokus ibadah. Jika tidak diarahkan, teknologi yang seharusnya menjadi alat dakwah justru berubah menjadi pintu kemunduran moral.

Hoaks, Intoleransi, dan Lunturnya Akhlak

Penyebaran hoaks bernuansa agama terbukti ikut memicu polarisasi dan sikap intoleran di tengah masyarakat Indonesia. Data menunjukkan sebagian besar masyarakat belum menyadari bahwa berita yang mereka sebarkan adalah informasi palsu, sehingga dengan mudah terprovokasi dan tergelincir pada ujaran kebencian. Ruang digital yang semestinya menjadi medan dakwah sering berubah menjadi arena saling mencela, jauh dari akhlak Qur’ani yang menebarkan kedamaian.

Peran Kampus Qur’ani Seperti STIQ Ash-Shiddiq

Di tengah situasi ini, kampus Qur’ani memiliki peran strategis untuk melahirkan sarjana yang mampu membaca, menghayati, dan mengamalkan Al-Qur’an secara mendalam sekaligus melek teknologi. Melalui program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Teknologi Informasi Qur’ani, serta Dakwah dan Komunikasi Islam, STIQ Ash-Shiddiq dapat mencetak dai dan profesional yang mahir berdakwah di ruang digital dengan etika dan kedalaman ilmu. Setiap lulusan ditantang menjadi teladan moderasi beragama, penebar konten Qur’ani yang mencerahkan, dan penjaga harmoni di tengah keberagaman Indonesia

Leave a Reply