Hoaks Keagamaan dan Perpecahan Umat: Tantangan Serius bagi Indonesia Digital
Wajah Baru Hoaks Bernuansa Agama
Di era media sosial, hoaks keagamaan menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasinya, sering kali lewat pesan berantai, poster digital, atau video pendek yang tampak “alim” namun menipu. Tidak sedikit hoaks yang mencatut nama Kementerian Agama, menawarkan haji atau bantuan keagamaan gratis, hingga surat edaran palsu yang memanfaatkan kepercayaan umat untuk kepentingan penipuan dan provokasi.
Hoaks keagamaan bukan hanya soal informasi salah, tetapi juga tentang manipulasi emosi—memancing kemarahan, rasa dizalimi, dan kebencian terhadap kelompok lain. Kondisi ini semakin berbahaya ketika masyarakat memiliki literasi digital yang rendah, sehingga cenderung langsung percaya dan membagikan informasi tanpa tabayyun.
Dari Layar Gawai ke Konflik Nyata
Penelitian menunjukkan disinformasi agama dapat mengubah ketegangan di ruang digital menjadi konflik sosial di dunia nyata, bahkan memicu kekerasan dan kerusuhan. Contohnya terlihat dalam kasus pembakaran rumah ibadah di Tanjung Balai, yang dipicu narasi keagamaan yang dipelintir dan disebarkan tanpa kendali.
Data pemerintah memperlihatkan ribuan konten ujaran kebencian berbasis SARA telah ditangani dan diturunkan, namun gelombang baru terus muncul setiap tahun. Ujaran kebencian ini menumbuhkan prasangka dan intoleransi di kalangan remaja, menjauhkan mereka dari nilai rahmatan lil ‘alamin yang diajarkan agama.
Peran Pendidikan Islam dan Kampus Qur’ani
Berbagai kajian menegaskan pendidikan agama yang sehat dan kritis berperan penting dalam menangkal hoaks dan disinformasi. Penguatan nilai tabayyun, etika komunikasi, dan pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an tentang larangan fitnah, ghibah, dan su’uzhan dapat menjadi bekal ruhani sekaligus sosial bagi generasi muda.
Kampus Qur’ani seperti STIQ Ash‑Shiddiq sangat strategis untuk mencetak dai, peneliti, dan komunikator Islam yang cerdas membaca teks wahyu sekaligus peka terhadap dinamika media digital. Melalui program Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Teknologi Informasi Qur’ani, serta Dakwah dan Komunikasi Islam, kampus dapat melahirkan generasi yang mampu meluruskan narasi agama di ruang publik dengan hujah ilmiah dan cara yang sejuk.
Strategi Menangkal Hoaks Keagamaan
Beberapa langkah yang perlu diperkuat agar hoaks tidak terus merobek persatuan umat:
- Mengajarkan literasi media dan literasi keagamaan secara bersamaan, sehingga umat tidak hanya paham dalil, tetapi juga paham cara kerja algoritma, buzzer, dan manipulasi informasi.
- Menghidupkan budaya tabayyun dan rujuk ke sumber resmi, seperti kanal Kemenag dan lembaga fatwa, sebelum menyebarkan informasi bernuansa agama.
- Mengembangkan konten dakwah digital yang menarik, faktual, dan penuh adab, sebagai tandingan narasi provokatif yang memecah-belah.
- Mendorong tokoh agama dan mahasiswa kampus Islam menjadi “influencer kebaikan” yang aktif mengedukasi umat tentang bahaya hoaks dan pentingnya menjaga persaudaraan kebangsaan.
Hoaks keagamaan akan terus menjadi ancaman selama umat lebih cepat membagikan daripada memverifikasi. Di sinilah dakwah Qur’ani yang cerdas, beradab, dan berbasis ilmu sangat dibutuhkan agar ruang digital kembali menjadi ladang pahala, bukan arena perpecahan
