Gen Z vs Algoritma: Saat TikTok Kalah Sama Ayat Al-Qur’an di Hati

Gen Z vs Algoritma: Saat TikTok Kalah Sama Ayat Al-Qur’an di Hati

Generasi muda hari ini tumbuh dengan dua “kitab” di tangan: mushaf dan layar ponsel. Di satu sisi, Al‑Qur’an mengajarkan kedamaian dan makna hidup; di sisi lain, algoritma media sosial menawarkan hiburan tanpa henti, validasi instan, dan pelarian dari rasa sepi. Tidak heran, banyak anak muda yang hafal trend terbaru, tetapi gagap ketika ditanya ayat yang bisa menenangkan hati saat cemas atau patah semangat.

Di tengah arus konten yang deras, spiritualitas tidak lagi otomatis tumbuh hanya karena seseorang lahir di keluarga muslim. Gen Z harus memilih: sekadar ikut arus scroll, atau pelan-pelan membangun hubungan pribadi dengan Tuhan di antara notifikasi yang tidak pernah berhenti.

Lelah Mental di Era Serba Online

Data tentang generasi muda menunjukkan gangguan kecemasan dan masalah fokus meningkat tajam, salah satunya dipicu tekanan sosial dan paparan konten negatif di media sosial. Hidup seolah selalu lomba: siapa paling produktif, paling bahagia, paling banyak prestasi, padahal banyak yang sebenarnya sedang lelah dan merasa tertinggal.

Di ruang yang serba digital itu, “healing” sering dipahami sebagai liburan, belanja, atau menonton konten lucu tanpa henti. Padahal hati yang benar-benar lelah butuh lebih dari sekadar distraksi; ia butuh arah, butuh makna, dan butuh diajak pulang kepada sesuatu yang lebih besar dari sekadar angka like dan view.

Spiritualitas Digital: Antara Doa dan Konten

Menariknya, teknologi tidak selalu jadi musuh spiritualitas. Banyak anak muda mulai menemukan inspirasi iman dari video pendek, podcast kajian, atau kelas mengaji online yang bisa diakses kapan saja. Dengan satu klik, mereka bisa mendengar tafsir, cerita sahabat Nabi, sampai penjelasan ilmiah tentang ayat‑ayat kauniyah yang menyentuh logika dan hati sekaligus.

Masalahnya muncul ketika semua yang berbau spiritual hanya berhenti di level konten. Menonton video motivasi tanpa pernah menata ulang jadwal shalat, mendengarkan kajian tanpa mau mengubah gaya hidup, atau mengoleksi quote Islami tanpa menyentuh mushaf dan merenungi maknanya. Di titik ini, iman berubah jadi hiburan, bukan lagi kompas hidup.

Kembali ke Al‑Qur’an sebagai Kompas, Bukan Pelarian

Al‑Qur’an turun bukan hanya untuk dikhatamkan di bulan Ramadhan, tetapi untuk menjadi kompas di tengah rasa bingung dan cemas yang dialami manusia setiap hari. Generasi yang akrab dengan sains dan teknologi justru diajak berdialog oleh Al‑Qur’an: merenungi langit, bumi, sejarah, dan perjalanan jiwa, bukan diminta mematikan akal sehat.

Di kampus‑kampus Qur’ani seperti STIQ Ash‑Shiddiq, upaya yang dilakukan bukan sekadar menambah jumlah hafidz, tetapi melahirkan generasi yang mampu membaca ayat qauliyah (teks Al‑Qur’an) dan ayat kauniyah (fenomena alam dan sosial) secara bersamaan. Mereka belajar tafsir, teknologi informasi, dan dakwah digital agar bisa bicara dengan bahasa zaman, tanpa kehilangan ruh ayat yang mereka bawa.

Langkah Kecil Gen Z untuk Menyelamatkan Hati

Spiritualitas Gen Z tidak harus identik dengan hidup di gua dan mematikan internet. Justru tantangannya adalah bagaimana tetap terhubung dengan dunia sambil menjaga hati tidak larut dalam kebisingannya. Beberapa langkah kecil bisa dimulai dari sekarang:

  • Menetapkan “waktu sakral” tanpa gawai setiap hari, walau hanya 10–15 menit, untuk tilawah, dzikir, atau sekadar curhat jujur kepada Allah.
  • Mengurangi akun yang memicu iri, cemas, atau syahwat, dan menggantinya dengan konten yang menambah ilmu, empati, dan kedekatan kepada Al‑Qur’an.
  • Mengikuti satu komunitas kecil: halaqah Qur’an, kajian rutin, atau kelas online yang membantu menjaga ritme iman di tengah kesibukan kuliah dan kerja.

Generasi muda tidak bisa memilih lahir di era sebelum TikTok atau sebelum algoritma, tapi bisa memilih bagaimana meresponsnya. Dengan Al‑Qur’an sebagai pusat, teknologi bukan lagi penguasa hati, melainkan sekadar alat yang diarahkan untuk kebaikan. Di titik itulah Gen Z tidak hanya “online”, tetapi benar‑benar hidup—dengan akal yang jernih dan hati yang terhubung kepada Tuhan.

Leave a Reply