Peluang, Tantangan, dan Peran Kampus dalam Mencetak Dai dan Cendekia Muda Masa Kini
Era digital membuka peluang luas bagi generasi Qur’ani untuk menyebarkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui platform inovatif. Namun, tantangan seperti konten radikal dan rendahnya literasi digital juga semakin nyata di kalangan anak muda. Kampus seperti STIQ Ash-Shiddiq berperan strategis dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan dakwah digital dan pemikiran kritis berbasis Al-Qur’an.
Peluang Dakwah Qur’ani Digital
Media sosial dan aplikasi telah mengubah pola dakwah menjadi lebih inklusif dan menjangkau generasi Z yang melek teknologi. Konten seperti tahfidz digital, tafsir tematik via video pendek, dan podcast Qur’ani viral di platform seperti TikTok dan Instagram, menarik jutaan pemuda muslim. Inovasi ini memungkinkan interaksi langsung, di mana anak muda bisa bertanya makna ayat secara real-time dan menerapkan nilai Qur’ani dalam isu kontemporer seperti lingkungan dan mental health.
Pendekatan gamifikasi dan AI dalam pembelajaran Al-Qur’an, seperti app hafalan berbasis algoritma, membuat proses tilawah lebih menyenangkan dan personal. Hasilnya, gerakan literasi Qur’an di kalangan Gen Z melonjak, dengan tren “hijrah digital” yang memadukan gaya hidup islami dan budaya pop digital.
Tantangan Generasi Digital
Anak muda menghadapi banjir informasi hoaks dan narasi ekstrem di media sosial, yang mengancam pemahaman Qur’ani yang moderat. Fenomena “algorithmic religion” mendorong konten sensasional berbasis algoritma, sehingga pemuda rentan terhadap interpretasi keliru atau radikalisme digital.
Rendahnya literasi digital menyebabkan kesulitan membedakan sumber autentik, sementara tekanan tren viral sering kali mengorbankan kedalaman kajian Al-Qur’an. Selain itu, gaya hidup digital yang hiper-konektif memicu distraksi dari ibadah rutin dan pembiasaan akhlak Qur’ani.
Peran Strategis Kampus
Kampus Qur’ani seperti STIQ Ash-Shiddiq dapat menjadi inkubator dai muda dengan mengintegrasikan kurikulum teknologi informasi Qur’ani dan dakwah digital. Program seperti ini membekali mahasiswa skill pemrograman app Islami, content creation, dan analisis data dakwah.
Melalui workshop moderasi beragama digital dan kolaborasi dengan influencer muslim, kampus membentuk cendekia yang siap menangkal hoaks dengan tafsir maqashid syariah. Pendekatan ini tidak hanya mencetak lulusan kompetitif, tapi juga agen perubahan yang menyebarkan rahmatan lil alamin di cyberspace.
Menuju Generasi Qur’ani Unggul
Kampus harus kolaborasi dengan komunitas digital untuk riset AI Qur’ani dan sertifikasi dakwah online. Dengan begitu, generasi muda tak hanya hafal Al-Qur’an, tapi juga jadi pemimpin inovatif yang mengisi ruang digital dengan kebaikan. Inisiatif ini selaras dengan visi STIQ Ash-Shiddiq dalam mencetak sarjana yang menguasai ilmu dan akhlak mulia.
