Menghafal Al-Qur’an Sambil Kuliah: Beban atau Booster Produktivitas?

Menghafal Al-Qur’an Sambil Kuliah: Beban atau Booster Produktivitas?

Seringkali muncul anggapan bahwa menghafal Al-Qur’an (Tahfidz) adalah kegiatan yang menyita waktu. Banyak calon mahasiswa atau bahkan mahasiswa aktif khawatir fokus mereka akan terbagi antara setoran hafalan dan tumpukan tugas kuliah.

Namun, benarkah menghafal Al-Qur’an menghambat produktivitas? Ataukah justru sebaliknya?

1. Fenomena “Barakah dalam Waktu”

Banyak mahasiswa di STIQASH membuktikan fenomena unik: semakin banyak waktu yang dialokasikan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, semakin efektif mereka menyelesaikan urusan lainnya. Secara psikologis, memulai hari dengan murojaah atau menambah hafalan menciptakan kejernihan mental (mental clarity) yang membantu otak bekerja lebih fokus saat menyerap materi kuliah yang kompleks.

2. Aktivasi Otak Melalui Metode Menghafal

Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar pengulangan kata. Proses ini melibatkan kerja otak yang intensif, mulai dari fokus pendengaran, visualisasi ayat, hingga penguatan memori jangka panjang.

Secara ilmiah, aktivitas ini memperkuat hippocampus—bagian otak yang bertanggung jawab atas memori dan pembelajaran. Jadi, mahasiswa penghafal Al-Qur’an sebenarnya sedang melakukan “gym otak” setiap hari, yang secara otomatis memudahkan mereka dalam memahami literatur akademik yang berat.

3. Disiplin Adalah Kunci (High-Level Discipline)

Menjadi mahasiswa STIQASH melatih satu hal yang tidak didapat di semua tempat: Kedisiplinan tingkat tinggi. * Bangun sebelum fajar untuk ziyadah.

  • Manajemen waktu antara jadwal kuliah dan tasmi’.
  • Menjaga pandangan dan sikap demi menjaga hafalan.

Karakter disiplin inilah yang menjadi soft skill utama yang dicari di dunia kerja masa kini. Lulusan yang mampu menjaga 30 Juz sambil meraih gelar sarjana adalah bukti nyata individu yang memiliki ketahanan mental (grit) luar biasa.

4. Tips Singkat: Menjaga Keseimbangan

Bagi teman-teman mahasiswa yang sedang berjuang, berikut tips agar kuliah dan hafalan berjalan beriringan:

  • Gunakan Golden Hour: Selesaikan target hafalan di waktu Subuh sebelum distraksi pesan WhatsApp dan tugas kuliah masuk.
  • Manfaatkan Sela Waktu: Murojaah saat menunggu dosen atau dalam perjalanan menuju kampus.
  • Niatkan sebagai Booster: Ubah pola pikir bahwa Al-Qur’an bukan “tugas tambahan”, melainkan energi utama untuk menyelesaikan tugas kuliah.

Penutup

Menghafal Al-Qur’an di sela kesibukan kuliah memang menantang, namun di situlah letak kemuliaannya. Di STIQ Asy-Syathibi, kita tidak hanya mencetak sarjana yang cerdas secara intelektual, tapi juga sarjana yang jiwanya hidup dengan cahaya wahyu.


Bagaimana menurutmu? Apa tantangan terberatmu dalam membagi waktu antara tugas kuliah dan hafalan minggu ini? Tulis di kolom komentar di bawah ya!

Leave a Reply