Menjaga Otentisitas Tafsir dari Generasi ke Generasi di STIQ ASH

Menjaga Otentisitas Tafsir dari Generasi ke Generasi di STIQ ASH

Dalam tradisi keilmuan Islam, khususnya dalam studi Al-Qur’an dan Hadits, konsep Sanad (rantai transmisi guru ke guru hingga Rasulullah SAW) adalah pilar utama yang menjamin otentisitas dan keabsahan ilmu. Di era digital ini, ketika setiap orang bisa mengakses terjemahan dan tafsir secara instan, peran sanad menjadi semakin krusial.

Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) ASH menempatkan sanad sebagai bagian tak terpisahkan dari kurikulum Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT). Kami tidak hanya mengajarkan apa yang ada di dalam kitab, tetapi juga mengajarkan bagaimana ilmu itu diturunkan dan diamalkan.

1. Sanad sebagai Garansi Kualitas Ilmu

Mempelajari Tafsir tanpa sanad ibarat membaca peta tanpa penunjuk jalan. Sanad memberikan dua jaminan utama:

  • Otentisitas: Sanad memastikan bahwa metodologi penafsiran yang digunakan, mulai dari pemahaman Asbabun Nuzul hingga penerapan kaidah-kaidah Bahasa Arab, telah diwariskan secara sah dari para ulama terkemuka. Ini melindungi mahasiswa dari penafsiran yang menyimpang atau subyektif.
  • Keberkahan (Barakah): Sanad tidak hanya transfer informasi, tetapi juga transfer barakah (keberkahan) dan adab (etika) dari guru ke murid. Interaksi langsung dengan dosen yang memiliki sanad yang jelas akan membentuk karakter cendekiawan yang rendah hati dan berhati-hati dalam berfatwa.

2. Model Pembelajaran Musyafahah dan Talaqqi

Di STIQ ASH, tradisi belajar Al-Qur’an dan Tafsir dihidupkan kembali melalui metode klasik yang autentik, disandingkan dengan perkuliahan modern:

  • Talaqqi dan Musyafahah: Mahasiswa diajarkan untuk menerima bacaan Al-Qur’an (Qira’at) secara lisan langsung dari dosen (melalui Talaqqi), memastikan ketepatan makhraj dan tajwid yang merupakan syarat sahnya seorang hafizh.
  • Kajian Kitab Tafsir Bersanad: Beberapa mata kuliah Tafsir utama diampu oleh dosen yang memiliki sanad keilmuan jelas, sehingga mahasiswa tidak hanya membaca teks Tafsir, tetapi juga merasakan ruh dari tradisi ulama terdahulu.

3. Kontribusi Lulusan: Menjaga Tradisi di Era Modern

Lulusan STIQ ASH dipersiapkan untuk menjadi ulama dan pendidik yang mampu menyajikan Islam yang otentik, berdasarkan sumber yang jelas dan metodologi yang kokoh.

  • Penulis dan Da’i yang Otoritatif: Mampu berbicara atau menulis tentang Islam dengan penuh keyakinan dan dasar (hujjah) yang kuat, karena mereka tahu persis dari mana ilmu tersebut berasal.
  • Penyaring Informasi: Dapat menjadi filter bagi masyarakat dari penyebaran ajaran atau tafsir yang tidak berdasar atau bersanad, terutama di media sosial yang penuh hoax keagamaan.

Dengan menekankan sanad, STIQ ASH memastikan setiap ilmu yang Anda pelajari memiliki akar yang kuat, menghubungkan Anda langsung dengan mata air keilmuan Islam yang murni.

Leave a Reply