Jawaban Tafsir Kontemporer atas Krisis Spiritual Generasi Muda
Generasi muda saat ini menghadapi tantangan moral dan spiritual yang kompleks: krisis identitas, kecanduan digital, dan tekanan eksistensial. Di tengah arus modernisasi yang deras, mereka mencari pegangan yang kokoh. Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) ASH meyakini bahwa jawaban fundamental atas krisis ini ada pada pemahaman mendalam dan kontekstual terhadap Al-Qur’an.
Melalui Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), STIQ ASH tidak hanya mencetak penghafal, tetapi juga Mufassir (penafsir) yang mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai kompas moral yang relevan bagi peradaban modern.
1. Tafsir yang Menyentuh Isu Hati dan Jiwa
Studi Tafsir di STIQ ASH diarahkan untuk mengatasi masalah nyata yang dihadapi generasi muda:
- Tafsir Ayat-Ayat Nafsiyyah: Fokus pada ayat-ayat yang berkaitan dengan jiwa (nafs), hati (qalb), dan akal (’aql). Mahasiswa dilatih menganalisis bagaimana Al-Qur’an memberikan solusi spiritual terhadap isu kecemasan, depresi, dan nihilisme.
- Etika Digital dan Media Sosial: Mengaplikasikan nilai-nilai Al-Qur’an (seperti ghadul bashar – menjaga pandangan, dan tabayyun – verifikasi) ke dalam perilaku di media sosial, membantu mahasiswa dan masyarakat menggunakan teknologi secara bijak dan beretika.
- Konsep Ihsan dalam Kehidupan Profesional: Menganalisis makna Ihsan (melakukan yang terbaik) dalam konteks pekerjaan dan wirausaha, menghubungkan etos kerja modern dengan nilai-nilai spiritual.
2. Metodologi Tafsir yang Interdisipliner
Untuk menjadikan Al-Qur’an relevan, tafsir harus dialogis dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan. STIQ ASH menekankan:
- Tafsir Ilmi yang Proporsional: Memahami isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an tanpa memaksakan penafsiran. Tujuannya adalah menunjukkan koherensi antara wahyu dan sains (ayat Qauliyah dan Kauniyah), yang dapat memperkuat iman di tengah dominasi ilmu pengetahuan sekuler.
- Ulumul Qur’an sebagai Benteng: Membekali mahasiswa dengan ilmu dasar (seperti Asbabun Nuzul dan Nasikh-Mansukh) agar mampu membedakan mana nilai Al-Qur’an yang fundamental (prinsip) dan mana yang kontekstual (implementasi), sehingga tidak mudah terjebak dalam pemahaman agama yang kaku.
3. Lulusan sebagai Duta Penerang Hati
Lulusan STIQ ASH dipersiapkan untuk menjadi cendekiawan Muslim yang mampu mengisi ruang-ruang publik dengan narasi keagamaan yang mencerahkan dan menenangkan:
- Konselor Spiritual: Mampu memberikan nasihat dan bimbingan berbasis Al-Qur’an kepada masyarakat yang sedang mencari makna hidup dan ketenangan.
- Pendidik Berkarakter: Guru PAI yang mampu mengintegrasikan pelajaran agama dengan pembinaan moral dan spiritual siswa di sekolah.
Bergabung dengan STIQ ASH adalah memilih jalan untuk menjadi penafsir cahaya, yang membawa petunjuk abadi Al-Qur’an sebagai solusi nyata bagi krisis peradaban kontemporer.
