Menghimpun Jawaban Al-Qur’an untuk Isu Kebangsaan dan Sosial Kontemporer
Studi Al-Qur’an tidak boleh terbatas pada penafsiran ayat per ayat (tahlili), tetapi harus mampu menyajikan pandangan Al-Qur’an yang utuh terhadap isu-isu besar yang dihadapi umat manusia. Tafsir Tematik (Maudhu’i) adalah metodologi kunci yang memungkinkan kita menghimpun semua ayat terkait suatu topik—misalnya “Toleransi”, “Lingkungan”, atau “Keadilan Sosial”—untuk mendapatkan kesimpulan Al-Qur’an yang komprehensif.
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) ASH melatih mahasiswanya, khususnya di Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), untuk menguasai metode Maudhu’i ini, agar lulusan kami siap menjadi penafsir yang relevan dan solutif.
1. Melacak Solusi Al-Qur’an Secara Menyeluruh
Tantangan kontemporer sering kali kompleks, dan solusinya membutuhkan pandangan holistik. Tafsir Tematik membantu mengatasi fragmentasi pemahaman agama:
- Isu Korupsi dan Akuntabilitas: Dengan metode Maudhu’i, seorang Mufassir dapat menghimpun semua ayat tentang amanah, kejujuran, hak milik, dan larangan suap, merumuskan panduan etika anti-korupsi yang kuat dan berbasis Syariah.
- Toleransi dan Kebangsaan: Semua ayat tentang keragaman (ikhtilaf), persatuan (ukhuwah), dan hubungan antarumat beragama (muamalah) dikumpulkan untuk menyusun narasi Islam wasathiyyah (moderat) yang mendukung kebhinekaan di Indonesia.
- Krisis Lingkungan: Ayat-ayat yang membahas khalifah (mandat manusia sebagai penjaga bumi), pentingnya menjaga alam (mizan), dan larangan merusak (fasad) dapat dirumuskan menjadi fatwa lingkungan yang kuat.
2. Metodologi Maudhu’i dalam Pembelajaran STIQ ASH
Pengajaran Tafsir Tematik di STIQ ASH melibatkan langkah-langkah sistematis yang disiplin:
- Tahap Pengumpulan Ayat: Mahasiswa dilatih menggunakan software dan Mu’jam (indeks) untuk mengumpulkan semua ayat yang mengandung kata kunci atau konsep yang diteliti.
- Tahap Sinkronisasi: Memahami munasabah (keterkaitan) antara ayat yang terpisah, melihat konteks turunnya (asbabun nuzul), dan menyelaraskannya dengan Hadis.
- Tahap Perumusan Jawaban: Merumuskan kesimpulan akhir (sintesis) yang merupakan jawaban utuh Al-Qur’an terhadap masalah kontemporer tersebut.
3. Dampak Lulusan sebagai Intelektual Publik
Lulusan STIQ ASH yang mahir dalam Tafsir Tematik menjadi intelektual Muslim yang sangat dibutuhkan di ruang publik:
- Penulis dan Peneliti: Mampu menghasilkan karya tulis dan riset yang menyajikan Islam sebagai agama solutif dan tidak dogmatis.
- Da’i dan Penyuluh: Mampu memberikan ceramah dan penyuluhan yang relevan dengan masalah nyata yang dihadapi masyarakat (ekonomi, politik, sosial), membuat Al-Qur’an terasa dekat dan praktis.
STIQ ASH mencetak Mufassir Masa Depan yang mampu membaca Al-Qur’an dengan hati dan membaca zaman dengan akal, menjembatani teks suci dengan realitas kontemporer.
