Peran Sarjana Tafsir STIQ Ash-Shiddiqiyah dalam Melawan Individualisme Digital
Di tengah kemudahan donasi online dan kampanye sosial yang viral, ironisnya, masyarakat modern menghadapi peningkatan Individualisme Digital—terhubung secara virtual, tetapi terpisah secara emosional dan sosial. Konsekuensinya, banyak yang merasa nyaman menyumbang hanya dengan satu klik tanpa menginternalisasi nilai-nilai fundamental Infaq, Sadaqah, dan Takaful (saling menanggung beban) yang diajarkan Al-Qur’an. Permasalahan hari ini adalah: Banyak umat yang menganggap Infaq sebagai beban finansial, bukan sebagai jembatan sosial dan sarana penyucian diri.
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah melihat ini sebagai tantangan Tarbiyah sosial. Kami berkomitmen menghasilkan Sarjana Tafsir yang mampu mengubah perspektif umat tentang Infaq dan Takaful, mengajarkan bahwa kekayaan sejatinya adalah alat untuk mengokohkan komunitas dan memenuhi tanggung jawab sosial, sesuai dengan Maqashid Syariah.
Tiga Strategi Kunci STIQ dalam Tafsir Sosial dan Takaful
STIQ Ash-Shiddiqiyah melatih mahasiswanya untuk menghadirkan Tafsir Al-Qur’an sebagai solusi nyata masalah sosial:
1. Tafsir Ayat Infaq dan Sadaqah sebagai Pilar Ekonomi Sosial
Ayat-ayat tentang Infaq harus dipahami dalam konteks pembangunan komunitas, bukan sekadar sedekah individual.
- Konsep Takaful Qur’ani: Mahasiswa dilatih menganalisis ayat-ayat yang menekankan Takaful (saling menanggung), seperti kisah-kisah di mana Anshar (penduduk Madinah) berbagi harta dengan Muhajirin (pendatang). Konsep ini harus diproyeksikan ke dalam sistem jaminan sosial, pendidikan, dan kesehatan komunitas Muslim hari ini.
- Infaq Melawan Konsumerisme: Sarjana Tafsir didorong untuk mengaitkan perintah Infaq dengan kritik Al-Qur’an terhadap Israf (berlebihan) dan Tabdzir (menyia-nyiakan), mengajarkan bahwa mengutamakan Infaq adalah terapi nyata melawan gaya hidup konsumtif digital.
2. Membangun Sense of Community Melalui Praktik Qur’ani
Tadabbur harus menghasilkan tindakan kolektif.
- Kajian Haula-s-sadaqah: Melakukan kajian tematik tentang dampak sosial Sadaqah (sedekah) dalam membangun keadilan dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Menekankan pentingnya Sadaqah yang bersifat produktif dan berkelanjutan (misalnya, wakaf pendidikan atau modal usaha bagi fakir miskin).
- Etika Transaksi Digital: Lulusan dibekali pemahaman tentang etika platform donasi online, memastikan dana disalurkan secara transparan dan amanah, sesuai dengan prinsip Akuntabilitas dalam Islam.
3. Dakwah untuk Social Responsibility dan Waqf
Sarjana Tafsir harus menjadi influencer spiritual yang menggerakkan social responsibility.
- Advokasi Waqf Produktif: Lulusan didorong untuk mengadvokasi praktik Wakaf Produktif di komunitas (misalnya, wakaf tanah untuk pertanian, atau wakaf uang untuk beasiswa), menjelaskan bahwa wakaf adalah investasi sosial abadi yang manfaatnya terus mengalir.
- Peran Ulama dalam Philanthropy: Menganalisis peran ulama-ulama klasik dalam menggerakkan philanthropy Islam dan menerapkannya dalam konteks digital fundraising hari ini.
Memilih STIQ Ash-Shiddiqiyah berarti memilih peran sebagai Pakar Spiritual dan Sosial. Lulusan kami siap menjadi agen yang mengembalikan semangat kebersamaan dan Takaful di tengah dinginnya arus individualisme. Mereka memastikan bahwa harta umat bukan hanya berputar di kalangan yang mampu, tetapi mengalir deras untuk membangun masyarakat yang adil dan sejahtera, sesuai tuntunan Al-Qur’an.
