Tantangan Indonesia 2025: Mengapa Generasi Qur’ani Dibutuhkan

Tantangan Indonesia 2025: Mengapa Generasi Qur’ani Dibutuhkan

Indonesia hari ini bukan hanya menghadapi persoalan ekonomi dan politik, tetapi juga krisis nilai: melemahnya karakter, kegelisahan generasi muda, dan derasnya arus informasi keagamaan yang tidak selalu sehat. Di tengah situasi ini, kampus Qur’ani seperti STIQ Ash-Shiddiq punya ruang sangat penting untuk menghadirkan kembali Al-Qur’an sebagai cahaya yang menuntun cara berpikir, bersikap, dan bergerak di tengah masyarakat.

Generasi muda di persimpangan zaman

Di banyak diskusi tentang pemuda Indonesia, muncul gambaran yang hampir serupa: generasi yang kreatif dan melek teknologi, tetapi sekaligus rentan kelelahan mental, tekanan sosial, dan kebingungan arah hidup. Gadget selalu di tangan, informasi datang tanpa henti, namun tidak semua punya kemampuan memilah mana yang bermanfaat dan mana yang justru merusak diri dan lingkungannya.

Sebagian anak muda berjuang menyiapkan masa depan di tengah ketidakpastian kerja, kesenjangan pendidikan, dan tuntutan keluarga yang tidak selalu mudah. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan akan pegangan nilai yang kuat bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan yang sangat nyata.

Krisis literasi Al-Qur’an di negeri Muslim terbesar

Ironisnya, di negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, kemampuan dasar membaca dan memahami Al-Qur’an masih menjadi pekerjaan rumah besar. Laporan asesmen Kementerian Agama menunjukkan bahwa di sebagian wilayah, persentase guru Pendidikan Agama Islam yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik baru sekitar setengah dari total yang diuji, dan itu baru sampel di Pulau Jawa.

Jika guru agama saja masih banyak yang lemah dalam literasi Qur’ani, bisa dibayangkan bagaimana dampaknya bagi kualitas pemahaman keagamaan generasi berikutnya. Akibatnya, sebagian anak muda hanya mengenal Al-Qur’an sebatas bacaan ritual, belum benar-benar menjadikannya sebagai panduan hidup yang hidup di kepala dan hati mereka.

Tantangan dakwah digital dan banjir hoaks keagamaan

Perkembangan teknologi menghadirkan ruang dakwah yang nyaris tak berbatas: ceramah satu menit di TikTok, kajian singkat di Reels, hingga podcast keislaman yang bisa diakses kapan saja. Namun, di saat yang sama, ruang digital juga dipenuhi hoaks, kutipan ayat yang terpotong konteks, hingga konten keagamaan yang memicu kebencian dan perpecahan.

Berbagai kajian komunikasi dakwah menegaskan bahwa disinformasi keagamaan di media sosial berpotensi menumbuhkan kecurigaan antar kelompok, menguatkan polarisasi, dan menjauhkan dakwah dari ruh rahmatan lil ‘alamin. Dalam kondisi seperti ini, dai dan konten kreator Muslim dituntut bukan hanya fasih berbicara, tetapi juga kuat literasi digital dan terbiasa dengan sikap tabayyun sebelum menyebarkan informasi.

STIQ Ash-Shiddiq dan misi membangun generasi Qur’ani

Di tengah pusaran masalah itu, hadir kampus seperti Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiq yang sejak awal memposisikan diri sebagai rumah bagi generasi yang ingin hidup bersama Al-Qur’an. Kampus ini tidak hanya menawarkan gelar sarjana, tetapi juga suasana belajar yang menempatkan ayat-ayat Allah sebagai poros setiap mata kuliah, diskusi, dan aktivitas mahasiswa.

Melalui Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, mahasiswa diajak menyelami makna ayat secara ilmiah dan kontekstual, sehingga Al-Qur’an tidak berhenti di mushaf, tetapi turun menyentuh realitas sosial yang sedang Indonesia hadapi. Program Teknologi Informasi Qur’ani menggabungkan dunia pemrograman, desain, dan etika digital, mempersiapkan generasi yang mampu menghadirkan konten dan inovasi teknologi yang bersih dari hoaks dan selaras dengan nilai Qur’ani.

Sementara itu, Program Dakwah dan Komunikasi Islam melatih mahasiswa menjadi juru bicara umat yang luwes di panggung nyata maupun ruang digital, terbiasa melakukan verifikasi informasi dan menyampaikan pesan agama dengan cara yang menenangkan, bukan menegangkan. Di tangan lulusan yang matang secara ilmu dan akhlak, dakwah di Indonesia diharapkan tidak lagi terjebak pada sensasi, tetapi kembali pada misi memelihara akal sehat, persatuan, dan kasih sayang antarsesama.

Menjadikan Al-Qur’an sebagai arah, bukan sekadar hiasan

Jika krisis yang dihadapi Indonesia hari ini disederhanakan, akar persoalannya sering kembali pada hilangnya kompas nilai dalam mengambil keputusan sehari-hari. Al-Qur’an dibaca dalam banyak kesempatan, tetapi belum sepenuhnya dijadikan rujukan ketika seseorang harus memilih antara kejujuran dan manipulasi, antara merawat bumi atau mengabaikan krisis iklim, antara menjaga persaudaraan atau menambah jarak karena perbedaan pandangan.

Melalui proses belajar yang serius, terarah, dan penuh keikhlasan sebagaimana diimpikan STIQ Ash-Shiddiq, generasi muda diajak naik satu tahap: dari sekadar “membaca” menuju “menghidupkan” Al-Qur’an dalam keputusan, karya, dan karakter. Jika semakin banyak pemuda Indonesia yang memilih jalan itu, maka permasalahan besar yang hari ini terasa berat—dari krisis moral hingga kekacauan informasi—pelan-pelan akan menemukan jalan keluar, dimulai dari berubahnya cara satu orang memaknai satu ayat dalam hidupnya

Leave a Reply