Menjaga Al-Qur’an di Tengah Hiruk Pikuk Modernitas: Tips Istiqamah bagi Penghafal dan Pencinta Al-Qur’an

Menjaga Al-Qur’an di Tengah Hiruk Pikuk Modernitas: Tips Istiqamah bagi Penghafal dan Pencinta Al-Qur’an

Di era media sosial yang serba cepat ini, fokus manusia menjadi barang yang mewah. Notifikasi ponsel seringkali lebih cepat menarik perhatian kita dibandingkan lembaran Mushaf yang menunggu di atas meja. Bagi kita di keluarga besar STIQASH, tantangan ini adalah medan dakwah sekaligus ajang pembuktian cinta kita kepada Kalamullah.

Bagaimana cara agar interaksi kita dengan Al-Qur’an tetap terjaga di tengah kesibukan yang padat? Berikut adalah beberapa langkah sederhana namun bermakna:

1. Menjadikan Qur’an sebagai “Prioritas”, Bukan “Sisa Waktu”

Seringkali kita berjanji akan membaca Al-Qur’an “kalau ada waktu luang”. Masalahnya, waktu luang jarang datang sendiri jika tidak diciptakan. Cobalah membalik logikanya: berikan waktu terbaik (setelah Subuh atau sebelum tidur) untuk Al-Qur’an, barulah kerjakan urusan dunia lainnya.

2. Kualitas Lebih Utama daripada Kuantitas

Bagi mahasiswa STIQASH, mendalami satu ayat secara mendalam (Tadabbur) terkadang memberikan dampak spiritual yang lebih kuat daripada membaca satu juz dengan terburu-buru. Pahami maknanya, resapi asbabun nuzulnya, dan tanyakan pada diri sendiri: “Apa pesan Allah untukku melalui ayat ini?”

3. Memanfaatkan Teknologi untuk Kebaikan

Ponsel pintar bisa menjadi musuh, tapi juga bisa menjadi sahabat terbaik dalam menghafal. Gunakan aplikasi murottal atau pengulang hafalan di sela-sela perjalanan menuju kampus atau saat mengantre. Jadikan gadget Anda sebagai saksi kebaikan di akhirat kelak.

4. Lingkungan (Suhbah) yang Mendukung

Berada di lingkungan kampus STIQASH adalah anugerah. Dikelilingi oleh teman-teman seperjuangan yang memiliki visi yang sama akan membuat langkah terasa lebih ringan. Saling menyimak hafalan (tasmi’) bukan hanya soal memperbaiki bacaan, tapi soal menjaga semangat.

Penutup

Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk dihafal di lisan, tapi untuk menghidupkan hati. Mari kita jadikan setiap hari yang kita lalui di STIQASH sebagai langkah untuk menjadi “Ahlul Qur’an” yang sesungguhnya—mereka yang perilaku dan akhlaknya mencerminkan isi Al-Qur’an.

Leave a Reply