Al-Qur’an dan Mental Health: Mengapa Menghafal adalah Terapi Terbaik di Era Distraksi?
Di tengah hiruk-pikuk media sosial dan tekanan hidup yang kian tinggi, istilah burnout, kecemasan, dan mental health menjadi perbincangan sehari-hari. Banyak yang mencari ketenangan lewat meditasi atau healing ke alam terbuka. Namun, bagi mahasiswa STIQ Al-Lathifiyyah, ada sebuah rahasia ketenangan yang sudah ada sejak 14 abad lalu: Interaksi intens dengan Al-Qur’an.
Mengapa menghafal Al-Qur’an bukan sekadar tugas akademik, melainkan sebuah bentuk penyembuhan jiwa? Mari kita bedah perspektifnya.
1. Deep Work: Melatih Fokus di Dunia yang Terfragmentasi
Dunia modern memaksa otak kita melakukan multitasking, yang sebenarnya melelahkan saraf. Saat seorang mahaswa STIQASH duduk diam untuk murojaah atau menambah hafalan baru, ia sedang mempraktikkan Deep Work.
Fokus mendalam pada ayat-ayat Allah melatih otak untuk masuk ke dalam “gelombang alfa”, kondisi di mana pikiran merasa tenang namun tetap waspada. Inilah healing yang sesungguhnya—mengistirahatkan otak dari notifikasi HP dan mengisinya dengan resonansi wahyu.
2. Afirmasi Positif Melalui Ayat-Ayat Basyir (Kabar Gembira)
Psikologi modern menekankan pentingnya self-talk atau afirmasi positif. Al-Qur’an adalah sumber afirmasi terbaik. Ketika seorang penghafal mengulang ayat seperti “Inna ma’al ‘usri yusra” (Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan), ia sedang menanamkan optimisme ke dalam alam bawah sadarnya secara berulang-ulang.
3. Komunitas yang Menjaga (Support System)
Kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Di STIQASH, ekosistem yang terbentuk adalah komunitas yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Lingkungan yang terjaga dari ghibah dan kompetisi duniawi yang toksik membuat jiwa lebih stabil dan bahagia.
Strategi “Bebas Burnout” bagi Pejuang Al-Qur’an:
Agar menghafal tidak terasa sebagai beban, coba terapkan pola ini:
- Micro-Goals: Jangan melihat 30 Juz sebagai beban besar sekaligus. Fokuslah pada satu halaman atau bahkan satu ayat yang Anda cintai hari ini.
- Koneksi Emosional: Baca terjemahannya. Hafalan yang disertai pemahaman makna akan menyentuh hati lebih dalam daripada sekadar hafalan tekstual.
- Istirahat Berkualitas: Gunakan waktu jeda untuk berzikir atau sekadar mengatur napas (tahsinul nafas), bukan langsung membuka media sosial.
Penutup
Menjadi mahasiswa di STIQ Al-Lathifiyyah adalah sebuah perjalanan penyembuhan. Kita tidak hanya sedang mencetak para penjaga wahyu, tetapi juga individu-individu yang memiliki ketahanan mental baja dan hati yang tentram.
Ingatlah, Al-Qur’an tidak diturunkan untuk membuatmu susah, melainkan sebagai obat bagi apa yang ada di dalam dada.
