Saat Followers Lebih Berharga dari Sanad
Di tengah hiruk pikuk media sosial, otoritas keilmuan agama seringkali berpindah dari majelis taklim ke timeline digital. Muncul fenomena “Ulama Instan” atau influencer agama, di mana popularitas, jumlah followers, dan kemampuan berbicara yang karismatik dianggap lebih penting daripada kedalaman ilmu, metodologi, atau Sanad (rantai transmisi keilmuan) yang sahih. Akibatnya, penafsiran Al-Qur’an dan Hadis yang dangkal, out-of-context, dan bahkan menyesatkan, mudah menyebar luas. Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah berdiri sebagai benteng akademik melawan arus ini. Kami berkomitmen menghasilkan Sarjana Qur’ani yang mampu menguji, mengoreksi, dan mengembalikan otoritas Tafsir ke tempat semestinya: ranah metodologi ilmiah, kearifan, dan sanad yang jelas. Tiga…
