Misi STIQ ASH Mencetak Generasi Penjaga dan Penafsir Wahyu
Dalam tradisi keilmuan Islam, seorang Hafizh (penghafal Al-Qur’an) diposisikan sebagai penjaga teks suci, sementara seorang Mufassir (ahli tafsir) adalah penerjemah maknanya bagi umat. Di era modern, tantangan umat Islam adalah memiliki individu yang menguasai kedua peran ini sekaligus. Hafalan tanpa pemahaman mendalam bisa kaku, sementara pemahaman tanpa hafalan bisa kehilangan ruh otentisitas. Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) ASH didirikan dengan misi unik untuk menjembatani jurang tersebut. Melalui Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT), kami mencetak lulusan yang tidak hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga ahli dalam menjelaskan relevansi ayat-ayat tersebut dengan isu-isu kontemporer. 1. Keunggulan Ganda: Hafizh dan Fa’him…
