Melahirkan ‘Ulama Intelektual’ dari Kampus Al-Qur’an di Era Disrupsi
Di tengah arus informasi yang tak terbendung di era disrupsi, urgensi untuk kembali kepada sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an, semakin terasa. Namun, kebutuhan akan ulama dan cendekiawan tidak lagi cukup hanya dengan hafalan yang kuat (huffazh), melainkan harus diimbangi dengan kemampuan analisis, riset, dan pemahaman kontekstual terhadap isi Al-Qur’an (mutafaqqih fi al-Qur’an). Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) Ash-Shiddiqiyah hadir sebagai jembatan yang menghubungkan tradisi mulia menghafal Al-Qur’an dengan tuntutan akademik modern. Institusi ini bertekad menghasilkan sarjana Qur’ani yang tidak hanya fasih membaca dan menghafal, tetapi juga mampu mengkaji, menafsirkan, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam konteks kehidupan kontemporer. Tiga Pilar…
