Panduan Lengkap Cara Memahami Muhkam dan Mutasyabih dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Di dalamnya, terdapat berbagai macam gaya bahasa, hukum, kisah, serta petunjuk moral. Dalam studi Ulumul Quran, para ulama membagi ayat-ayat Al-Qur’an menjadi dua kategori utama berdasarkan tingkat kejelasan maknanya: ayat muhkam dan ayat mutasyabih. Mempelajari dan mengetahui cara memahami muhkam dan mutasyabih merupakan kunci penting agar seseorang tidak salah dalam mengambil kesimpulan hukum maupun akidah.
Sebagai langkah awal dalam memahami Al-Qur’an secara komprehensif, penting juga bagi kita untuk mempelajari pentingnya mengetahui sejarah turunnya Al-Qur’an untuk studi Islam agar konteks pewahyuan ayat-ayat tersebut semakin jelas.
Definisi Ayat Muhkam dan Mutasyabih
Sebelum masuk pada pembahasan teknis mengenai cara memahaminya, mari kita kenali terlebih dahulu definisi dari kedua istilah tersebut secara ringkas.
Pengertian Ayat Muhkam
Secara bahasa, muhkam berarti kokoh, jelas, dan tegas maknanya. Dalam konteks Al-Qur’an, ayat muhkam adalah ayat-ayat yang maknanya sangat jelas, terang, dan tidak mengandung keraguan. Ayat jenis ini mudah dipahami maksudnya tanpa memerlukan takwil yang rumit. Sebagian besar ayat tentang hukum, halal dan haram, kisah umat terdahulu, serta batas-batas syariat termasuk ke dalam kategori muhkam.
Pengertian Ayat Mutasyabih
Sebaliknya, mutasyabih secara bahasa berarti menyerupai atau samar. Ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya tidak secara langsung dapat dipahami dengan jelas oleh akal biasa, atau mengandung beberapa kemungkinan makna. Contoh ayat mutasyabih antara lain ayat-ayat yang berbicara tentang sifat-sifat Allah (seperti tangan Allah, wajah Allah, atau istiwa’ di atas Arasy) atau huruf-huruf muqatha’ah di awal surah tertentu.
Untuk memperkaya wawasan tentang pengklasifikasian ayat, Anda juga dapat membaca artikel mengenai mengenal perbedaan ayat makkiyah dan madaniyah dalam Al-Qur’an guna memahami dinamika turunnya surah-surah tersebut.
Landasan Normatif dalam Al-Qur’an
Pembagian antara ayat muhkam dan mutasyabih ini bukan sekadar klasifikasi buatan ulama, melainkan bersumber langsung dari Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 7, yang menegaskan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat muhkat (yang menjadi pokok isi kitab) dan ayat-ayat mutasyabihat.
Ayat tersebut juga memberikan panduan perilaku bagi manusia: orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan akan mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya. Sementara itu, orang-orang yang mendalam ilmunya (rasikhun fil ‘ilm) akan mengatakan, “Kami beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.”
Langkah dan Cara Memahami Muhkam dan Mutasyabih
Mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an menuntut metode yang benar agar terhindar dari pemahaman yang menyimpang. Berikut adalah beberapa prinsip dan cara memahami muhkam dan mutasyabih secara proporsional:
1. Menjadikan Ayat Muhkam sebagai Fondasi Utama
Aturan emas dalam menafsirkan Al-Qur’an adalah mengembalikan ayat-ayat yang samar (mutasyabih) kepada ayat-ayat yang jelas (muhkam). Ayat muhkam harus diposisikan sebagai prinsip dasar dan payung hukum. Ketika menemukan ayat mutasyabih, kita tidak boleh menafsirkannya secara serampangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar yang sudah ditetapkan secara tegas dalam ayat muhkam.
2. Merujuk kepada Penjelasan Nabi dan Para Sahabat
Penjelasan terbaik mengenai makna suatu ayat tentu datang dari Rasulullah SAW melalui hadis-hadis sahih. Jika tidak ditemukan secara langsung dari Nabi, maka pemahaman para sahabat Nabi—khususnya mereka yang ahli dalam tafsir seperti Ibnu Abbas—harus dijadikan rujukan utama dalam memandang ayat-ayat yang sulit.
3. Menghindari Sikap Spekulatif
Terhadap ayat mutasyabih, sikap yang harus diambil oleh seorang mukmin adalah mengimaninya secara global tanpa memaksakan diri untuk mengetahui hakikat kaifiyah (bagaimana bentuk atau tata cara) dari perkara gaib tersebut. Misalnya, kita mengimani sifat-sifat Allah sebagaimana yang Dia firmankan tanpa menyeramakannya dengan makhluk (tasybih) dan tanpa melakukan pengingkaran (ta’thil).
4. Mempelajari Kaidah Ulumul Quran secara Menyeluruh
Memahami Al-Qur’an tidak cukup hanya bermodal terjemahan perkata. Diperlukan penguasaan ilmu-ilmu pendukung seperti nahwu, shorof, balaghah, dan asbabun nuzul. Dengan pemahaman ilmu alat dan konteks yang baik, seseorang akan lebih mudah membedakan mana ayat yang maknanya mutlak dan mana ayat yang membutuhkan telaah lebih dalam.
Kesimpulan
Cara memahami muhkam dan mutasyabih menuntut kehati-hatian, ketelitian, dan kedalaman ilmu. Ayat muhkam berfungsi sebagai kejelasan hukum dan akidah yang menjadi landasan, sementara ayat mutasyabih menguji keimanan dan keluasan ilmu seseorang terhadap kebesaran Allah SWT. Dengan merujuk pada kaidah tafsir yang benar serta bimbingan para ulama yang kredibel, kita dapat menggali mutiara hikmah dari Al-Qur’an secara selamat dan lurus.
Featured image: Rasyid Ahmad / Pexels
